Masuknya kebudayaan India ke
Indonesia telah membawa pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia.
Bangsa Indonesia yang sebelumnya memiliki kebudayaan asli, banyak mengadopsi
dan mengembangkan budaya India dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masyarakat
tidak begitu saja menerima budaya-budaya baru tersebut. Kebudayaan yang datang
dari India mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan yang ada di Indonesia
yang disebut dengan proses akulturasi kebudayaan.

Dalam bidang
agama juga lahir sinkretisme, yaitu perpaduan antara agama Hindu-Buddha dengan
kepercayaan yang telah ada dan berkembang di masyarakat Indonesia pada saat
itu. Sehingga agama Hindu-Buddha yang dianut oleh bangsa Indonesia pada aman
kerajaan-kerajaan sangat berbeda dengan agama Hindu-Buddha yang ada di India.
Masuknya agama Hindu dan Buddha tidak serta merta menghilangkan unsur budaya
lama yang telah berkembang dalam masyarakat Indonesia. Salah satu contoh yang
sangat mencolok dalam kehidupan masyarakat Hindu di Indonesia misalnya dalam
sistem kasta. Sistem kasta di Indonesia yang mengadopsi dari agama Hindu tidak
sama dengan sistem kasta yang berkembang dari tanah kelahiran agama tersebut
yaitu India. Baik dari ciri-ciri maupun keketatannya tidak menggambarkan
keadaan seperti sistem kasta di India. Bangsa Indonesia melaksanakan teori
tentang kasta, tetapi tidak memindahkan wujudnya seperti yang berkembang di
India, melainkan disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang sudah berlaku
sebelumnya.
Beberapa
unsur kebudayaan yang berkembang pada aman kerajaan Hindu-Buddha antara lain,
seni bangunan, seni ukir, seni sastra, dan seni patung. Salah satu hasil seni
bangunan yang paling penting dalam perkembangan seni bangunan di Indonesia
adalah candi. Demikian juga halnya dalam seni pembuatan candi yang merupakan
pengaruh dari India, akan tetapi dalam penerapannya menggunakan unsur-unsur
budaya yang telah berkembang sebelumnya di tanah Indonesia. Pembuatan candi
yang secara teoritis menggunakan dasar-dasar yang tercantum dalam kitab Silpasastra
akan tetapi pada tahap pelaksanaan dan hasilnya memperlihatkan corak budaya
asli Indonesia. Silpasastra ialah sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai
petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.
Pembuatan
candi di India selalu menunjukkan fungsinya yang utama yaitu sebagai tempat
peribadatan. Sementara candi-candi yang terdapat di Indonesia tidak hanya
difungsikan sebagai tempat peribadatan tetapi juga tempat pemakaman raja atau
orang-orang yang dimuliakan. Hal ini tampaknya dipahami oleh masyarakat
Indonesia bahwa kata candi berasal dari nama Durga sebagai Dewi Maut yaitu
Candika. Dari kata Candika menunjukkan bahwa candi merupakan tempat untuk
memuliakan orang yang telah meninggal, khususnya untuk para raja dan
orang-orang terkemuka.
Terdapat
perbedaan fungsi candi antara agama Hindu dan Buddha. Dalam agama Hindu, candi
adalah tempat penguburan abu jena ah. Di Bali upacara pembakaran mayat
dinamakan Ngaben. Di dalam candi Hindu biasanya terdapat patung-patung dari
para penguasa (raja) atau orang-orang terkenal yang dijelmakan sebagai dewa.
Dalam agama Buddha, candi berfungsi sebagai tempat pemujaan. Arca yang ada
dalam candi Buddha bukanlah arca perwujudan dari raja. Candi-candi yang
bercorak agama Hindu-Buddha banyak ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra,
Kalimantan, dan Bali.
1. Candi di
Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Di Jawa
Tengah dan Yogyakarta banyak ditemukan candi, baik yang bercorak Hindu maupun
Buddha, di antaranya sebagai berikut.
- Candi
Borobudur terletak di desa Budur, Magelang. Candi ini bercorak Buddha dan
didirikan oleh keluarga Syailendra pada aman Mataram Lama. Bentuk candi
Borobudur yang berupa punden berundak-undak menggambarkan adanya
akulturasi antara budaya India dengan budaya asli Indonesia dari aman
megalithikum. Berdasarkan ajaran Buddha Mahayana, candi Borobudur
merupakan Dasya-bodhisatwa-bhumi, artinya tempat mencapai kebuddhaan
melalui sepuluh tingkat bodhisatwa. Borobudur terdiri atas sepuluh tingkat
yang terbagi dalam tiga bagian yaitu kamadhatu (merupakan tingkatan paling
rendah atau disebut kaki candi, pada tingkatan manusia masih terpengaruh
oleh keduniawian), Rupadhatu (merupakan bagian lorong-lorong dengan
dinding-dinding yang penuh dengan hiasan dan relief, pada tingkat ini
manusia masih terikat pada bentuk keduniawian, tetapi telah insyaf untuk
mencari kebenaran), A-rupadhatu (bagian ini terdiri atas lantai yang
bulat, di sini terdapat 72 stupa dan stupa induk dipuncaknya yang
sekaligus merupakan mahkota candi Borobudur. Hal ini menggambarkan manusia
telah dapat membebaskan diri sama sekali dari nafsu keduniawian dan hanya
satu keinginan, yaitu mencapai moksa).
- Candi
Mendut dan candi Pawon terletak tidak jauh dari candi Borobudur. Kedua
candi ini bercorak Buddha dan merupakan candi tiga serangkai dengan candi
Borobudur. Ketiga candi ini terletak pada satu garis lurus, hal ini
sengaja dilakukan berdasarkan ajaran Buddha Mahayana. Menurut ajaran agama
Buddha Mahayana, untuk mencapai tujuan terakhir (moksa), yaitu mencapai
kedudukan sebagai Buddha harus melalui jalan secara bertahap. Tahap-tahap
tersebut terdiri atas dua bagian yaitu Dasyabodhisatwabhumi disebut
tingkat lokattara (tingkat di atas dunia), sebelum sampai ke tingkat
lokattara lebih dahulu harus menjalani tingkat persiapan. Tingkat
persiapan tersebut terdiri atas dua tahap pula, yaitu Sambharamarga dan
Prayogamarga. Kedua tahap ini merupakan tahap kehidupan di dunia atau
laukika. Jadi dari paham tersebut dapat diterangkan bahwa candi Borobudur
yang bersifat lokattara dibangun di atas bukit, sedangkan candi Mendut dan
candi Pawon yang bersifat laukika dan masing masing menggambarkan
Sambharamarga dan Prayogamarga dibangun di atas permukaan bumi (daerah
pedataran).
- Candi
Prambanan dikenal pula dengan. nama Candi Lorojonggrang, bercorak Hindu
dan terletak di desa Prambanan. Relief candi Prambanan mengambil kisah
Rama dari kitab Ramayana. Relief ini ditatahkan pada dinding lorong di
atas candi pertama, yang mengelilingi kaki candi kedua.
- Kelompok
candi Dieng, yang terdapat di Pegunungan Dieng letaknya sekitar 25 kilometer
dari kota Wonosobo. Candi-candi ini bercorak Hindu. Di dataran tinggi
Dieng terdapat beberapa buah candi antara lain Candi Bima, Candi
gatotkaca, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan
Candi Subadra.
- Candi
lainnya adalah Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Latu, Karang Anyar,
Candi Sarjiwan terletak di selatan Prambanan, Candi Lumbung di selatan
Candi Sewu, dan Candi Sari atau Candi Bendah lokasinya tidak jauh dari
Candi Kalasan
2.
Candi-candi di Jawa Timur
Begitu pula
halnya di Jawa Timur, banyak ditemukan candi, di antaranya sebagai berikut.
- Candi
Badut terletak di Desa Dinoyo, sebelah barat laut Malang, merupakan. candi
bercorak Hindu yang didirikan sekitar abad ke-8 M. Candi Singhasari
terletak di Desa Candinegoro sekitar 10 km dari kota Malang. Candi ini
berasal dari abad ke-14 dan dihubungkan dengan Raja Kertanegara dari
Kerajaan Singhasari
- Candi
Jago (Candi Jajaghu) terletak 18 kilometer dari kota Malang. Candi ini
merupakan candi bercorak Siwa-Buddha dan bentuknya berundakundak tiga buah
serta di halaman candi terdapat beberapa patung Buddha. Candi ini dibangun
pada masa Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari
- Candi
Kidal terletak sekitar 7 kilometer sebelah tenggara dari candi jago. Candi
ini merupakan bangunan suci untuk memuliakan raja Anusapati Raja
Singhasari.
- Candi
Panataran terletak sekitar 11 kilometer dari kota Blitar. Candi Panataran
merupakan kompleks candi yang terbesar di Jawa Timur dan merupakan candi
Siwa.
- Candi
Jajawa (Candi Jawi) terletak di Gunung Welirang yang merupakan makam Raja
Kertanegara.
- Candi
Singhasari yang terletak 10 kilometer dari kota Malang. Candi sebagai
tempat pendarmaan Raja Kertanegara yang digambarkan sebagai Bhairawa
(Siwa-Buddha)
- Candi
Rimbi terletak di Desa Pulosari, Jombang yang merupakan peninggalan
Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.
- Candi
Bajang Ratu yang merupakan gapura di daerah Trowulan bekas peninggalan
kerajaan Majapahit.
- Candi
Sumber Awan bercorak Buddha sebagai penghargaan atas kunjungan Raja Hayam
Wuruk ke daerah kaki Gunung Arjuna. Apabila dibandingkan antara
kelompok-kelompok candi yang terdapat di Jawa Tengah dengan Jawa Timur
terdapat hal-hal yang sangat menarik. Kelompok candi di Jawa Tengah
seperti Borobudur, Pawon, Mendut dan Prambanan yang sebagian besar merupakan
peninggalan kerajaan Mataram adalah kelompok bangunan candi yang
difungsikan sebagai tempat pemujaan keagamaan, baik Hindu ataupun Buddha.
Sementara kelompok candi yang terdapat di Jawa Timur seperti candi Kidal,
Jago, Panataran, merupakan candi yang difungsikan sebagai makam keluarga
raja. Jumlah candinya lebih banyak tetapi wujudnya kecil-kecil bila
dibandingkan dengan kelompok candi Borobudur atau Prambanan. Candi-candi
yang terdapat di Jawa Timur merupakan peninggalan kerajaan Singhasari
sampai Majapahit. Meskipun berwujud candi Siwa atau Buddha, tetapi pada
hakikatnya adalah candi makam dan bukan bentuk pemujaan Siwa atau Buddha.
Hal ini memperlihatkan bahwa pada aman Singhasari sampai Majapahit telah
terjadi pembauran antara kepercayaan asli yang berupa pemujaan arwah
leluhur dengan kepercayaan Siwa dan Buddha.
3. Candi di
Jawa Barat
Di Jawa
Barat ditemukan candi yang bercorak Siwa, yaitu candi Cangkuang terletak di
daerah Leles, Garut. Candi ini bentuknya sangat sederhana dan diperkirakan
berasal dari abad ke-8 Masehi. Selain itu, di daerah Jawa Barat ditemukan
beberapa arca dan bangunan suci, baik yang berbentuk bangunan teras berundak,
altar maupun percandian seperti Batu Kalde di Pantai Pangandaran, Batujaya dan
Cibuaya di Karawang, Astana Gede di Kawali dan Bojongmenje di daerah
Cicalengka, Kabupaten Bandung.
4.
Candi-candi di luar Jawa
Di luar Jawa
terdapat juga candi-candi, seperti berikut ini.
- Di
pulau Sumatra terdapat beberapa candi seperti Candi Muara Jambi di Jambi
yang memperlihatkan corak Buddha Mahayana. Ada juga Candi Muara Takus di
Riau (terbuat dari batu bata dan terdiri atas beberapa bangunan stupa). Di
komplek Candi Muara Takus ada beberapa candi seperti Candi Tua, Candi
Bungsu, dan Candi Mahligai. Kompleks percandian (stupa) lainnya adalah
Komplek Candi Padang Lawas yang terletak di Sumatra Utara dan bercorak
Siwaisme dan Budhisme. Di daerah Tapanuli terdapat komplek Candi Gunung
Tua yang bercorak Buddha
- Di
Kalimantan Selatan ditemukan sebuah candi yaitu Candi Agung di daerah Amuntai.
- Di Bali
terdapat Candi Padas atau Candi Gunung Kawi yang terletak di desa
Tampaksiring Kabupaten Gianyar. Candi ini dipahatkan pada dinding batu
yang keras dan merupakan tempat pemujaan Raja Anak Wungsu putra terakhir
dariRaja Udayana. Akulturasi antara kebudayaan lokal yang berkembang
sebelum masuknya pengaruh Hindu dengan budaya agama Hindu jelas terlihat
pada beberapa bangunan pura yang ditemukan di Bali. Pengaruh aman
megalithikum dengan budaya Hindu tampak terlihat dari bangunan pura yang
mirip dengan bangunan punden berundak-undak. Beberapa benda yang berasal
dari budaya megalithikum tetap dipelihara dan disandingkan dengan
patung-patung agama Siwa dan Buddha, misalnya beberapa peti mayat
(sarcophagus) sampai sekarang masih ditemukan di beberapa pura di Bali
yang dianggap suci. Bentuk akulturasi ini dapat kita lihat dari penyebutan
atau pemberian nama terhadap para dewa yang memperlihatkan unsur-unsur
lokalitas wilayah Bali. Misalnya nama Dewa Betara Da Tonta yang bisa kita
temukan di daerah Trunyan, Bali, memperlihatkan perpaduan nama unsur asli
daerah Bali dengan sedikit bahasa Sanskerta. Selain dari nama, bentuk Dewa
ini memiliki kemiripan dengan arca dari aman megalithikum.
Pada bentuk
fisik bangunan candi di Indonesia, seperti candi Borobudur, terdapat punden
berundak-undak yang merupakan kebudayaan asli bangsa Indonesia pada aman
megalithikum. Hal ini menunjukkan adanya akulturasi antara kebudayaan India
dengan kebudayaan Indonesia asli dalam seni bangunan. Ukiran atau relief yang
ada pada dinding candi, banyak dipengaruhi oleh kebudayaan India, berupa
gambaran sehari-hari kehidupan manusia, ataupun cerita dari kitab Ramayana dan
Mahabharata. Ditemukannya prasasti di Kalimantan Timur, adalah bukti pertama
kali adanya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia. Prasasti itu menandakan ada
Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Tulisan pada batu yang berbentuk yupa itu
menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Pada perkembangan selanjutnya,
ditemukan juga prasasti-prasasti di daerah lain seperti Jawa dan Sumatra,
peninggalan Kerajaan Tarumanagara, Mataram Lama, dan Sriwijaya, yang semuanya
mendapat pengaruh unsur-unsur budaya India terutama unsurunsur Hindu-Buddha.
Pengaruh
kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan
sejarah dalam berbagai bidang, antara lain sebagai berikut.
- Bidang
agama, yaitu berkembangnya agama Hindu-Buddha di Indonesia. Sebelum masuk
pengaruh India, kepercayaan yang berkembang di Indonesia masih bersifat
animisme dan dinamisme. Masyarakat pada saat itu melakukan pemujaan
terhadap arwah nenek moyang dan kekuatan-kekuatan benda-benda pusaka
tertentu serta kepercayaan pada kekuatan-kekuatan alam. Dengan masuknya
pengaruh Hindu-Buddha, kepercayaan asli bangsa Indonesia ini kemudian
berakulturasi dengan agama Hindu-Buddha. Hal ini terbukti dari beberapa
upacara keagamaan Hindu-Buddha yang berkembang di Indonesia walaupun dalam
beberapa hal tidak seketat atau mirip dengan tata cara keagamaan yang
berkembang di India. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam tatacara
pelaksanaan upacara keagamaan mengalami proses sinkretisme antara
kebudayaan agama Hindu-Buddha dengan kebudayaan asli bangsa Indonesia.
- Bidang
politik dan pemerintahan, pengaruhnya terlihat jelas dengan lahirnya
kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia. Sebelum masuknya
pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia tampaknya belum mengenal corak
pemerintahan dengan sistem kerajaan. Sistem pemerintahan yang berlangsung
masih berupa pemerintahan kesukuan yang mencakup daerah-daerah yang terbatas.
Pimpinan dipegang oleh seorang kepala suku bukanlah seorang raja. Dengan
masuknya pengaruh India, membawa pengaruh terhadap terbentuknya
kerajaan-kerajaan yang bercorak HinduBuddha di Indonesia. Kerajaan
bercorak Hindu antara lain Kutai, Tarumanagara, Kediri, Majapahit dan
Bali, sedangkan kerajaan yang bercorak Buddha adalah Kerajaan Sriwijaya.
Hal yang menarik di Indonesia adalah adanya kerajaan yang bercorak
Hindu-Buddha yaitu Kerajaan Mataram lama.
- Bidang
pendidikan membawa pengaruh bagi munculnya lembaga-lembaga pendidikan.
Meskipun lembaga pendidikan tersebut masih sangat sederhana dan
mempelajari satu bidang saja, yaitu keagamaan. Akan tetapi lembaga
pendidikan yang berkembang pada masa Hindu-Buddha ini menjadi cikal bakal
bagi lahirnya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Bukti-bukti yang
menunjukkan telah berkembangnya pendidikan pada masa kerajaan-kerajaan
Hindu-Buddha di Indonesia, antara lain adalah: a. Dalam catatan perjalanan
I-Tsing, seorang pendeta yang berasal dari Cina, menyebutkan bahwa sebelum
dia sampai ke India, dia terlebih dahulu singgah di Sriwijaya. Di
Sriwijaya I-Tsing melihat begitu pesatnya pendidikan agama Buddha,
sehingga dia memutuskan untuk menetap selama beberapa bulan di Sriwijaya
dan menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha bersama pendeta Buddha
yang ternama di Sriwijaya, yaitu Satyakirti. Bahkan I-Tsing menganjurkan
kepada siapa saja yang akan pergi ke India untuk mempelajari agama Buddha
untuk singgah dan mempelajari terlebih dahulu agama Buddha di Sriwijaya.
Berita I-Tsing ini menunjukkan bahwa pendidikan agama Buddha di Sriwijaya
sudah begitu maju dan tampaknya menjadi yang terbesar di daerah Asia
Tenggara pada saat itu. b. Prasasti Nalanda yang dibuat pada sekitar
pertengahan abad ke-9, dan ditemukan di India. Pada prasasti ini
disebutkan bahwa raja Balaputradewa dari Suwarnabhumi (Sriwijaya) meminta
pada raja Dewapaladewa agar memberikan sebidang tanah untuk pembangunan
asrama yang digunakan sebagai tempat bagi para pelajar agama Buddha yang
berasal dari Sriwijaya. Berdasarkan prasasti tersebut, kita bisa melihat
begitu besarnya perhatian raja Sriwijaya terhadap pendidikan dan
pengajaran agama Buddha di kerajaannya. Hal ini terlihat dengan
dikirimkannya beberapa pelajar dari Sriwijaya untuk belajar agama Buddha
langsung ke daerah kelahirannya yaitu India. Tidak mustahil bahwa
sekembalinya para pelajar ini ke Sriwijaya maka mereka akan
menyebarluaskan hasil pendidikannya tersebut kepada masyarakat Sriwijaya
dengan jalan membentuk asrama-asrama sebagai pusat pengajaran dan
pendidikan agama Buddha. c. Catatan perjalanan I-Tsing menyebutkan bahwa
pendeta Hui-Ning dari Cina pernah berangkat ke Ho-Ling (salah satu
kerajaan Buddha di Jawa). Tujuannya adalah untuk bekerja sama dengan
pendeta Ho-Ling yaitu Jnanabhadra untuk menerjemahkan bagian terakhir
kitab Nirwanasutra. Dari berita ini menunjukkan bahwa di Jawa pun telah
dikenal pendidikan agama Buddha yang kemudian menjadi rujukan bagi pendeta
yang berasal dari daerah lain untuk bersamasama mempelajari agama dengan
pendeta yang berasal dari Indonesia. d. Pada prasasti Turun Hyang, yaitu
prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga menyebutkan tentang
pembuatan Sriwijaya Asrama oleh Raja Airlangga. Sriwijaya Asrama merupakan
suatu tempat yang dibangun sebagai pusat pendidikan dan pengajaran
keagamaan. Hal ini menunjukkan besarnya perhatian Raja Airlangga terhadap
pendidikan keagamaan bagi rakyatnya dengan memberikan fasilitas berupa
pembuatan bangunan yang akan digunakan sebagai sarana pendidikan dan
pengajaran. e. Istilah surau yang digunakan oleh orang Islam untuk
menunjuk lembaga pendidikan Islam tradisional di Minangkabau sebenarnya
berasal dari pengaruh Hindu-Buddha. Surau merupakan tempat yang dibangun
sebagai tempat beribadah orang Hindu-Buddha pada masa Raja Adityawarman.
Pada masa itu, surau digunakan sebagai tempat berkumpul para pemuda untuk
belajar ilmu agama. Pada masa Islam kebiasaan ini terus dilajutkan dengan
mengganti fokus kajian dari Hindu-Buddha pada ajaran Islam.
- Bidang
sastra dan bahasa. Dari segi bahasa, orang-orang Indonesia mengenal bahasa
Sanskerta dan huruf Pallawa. Pada masa kerajaan HinduBuddha di Indonesia,
seni sastra sangat berkembang terutama pada aman kejayaan kerajaan Kediri.
Karya sastra itu antara lain, a. Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa yang
disusun pada masa pemerintahan Airlangga. b. Bharatayudha, karya Mpu Sedah
dan Mpu Panuluh disusun pada aman kerajaan Kediri. c. Gatotkacasraya,
karya Mpu Panuluh disusun pada aman kerajaan Kediri. d. Arjuna Wijaya dan
Sutasoma, karya Mpu Tantular yang disusun pada aman kerajaan Majapahit. e.
Negarakertagama, karya Mpu Prapanca disusun pada aman kerajaan Majapahit.
f. Wretta Sancaya dan Lubdhaka, karya Mpu Tanakung yang disusun pada aman
kerajaan Majapahit.
- Bidang
seni tari. Berdasarkan relief-relief yang terdapat pada candicandi,
terutama candi Borobudur dan Prambanan memperlihatkan adanya bentuk
tari-tarian yang berkembang sampai sekarang. Bentuk-bentuk tarian yang
digambarkan dalam relief memperlihatkan jenis tarian seperti tarian
perang, tuwung, bungkuk, ganding, matapukan (tari topeng). Tari-tarian
tersebut tampaknya diiringi dengan gamelan yang terlihat dari relief yang
memperlihatkan jenis alat gamelan yang terbatas seperti gendang, kecer,
gambang, saron, kenong, beberapa macam bentuk kecapi, seruling dan gong.
- Seni
relief pada candi yang kemudian menghasilkan seni pahat. Hiasan pada candi
atau sering disebut relief yang terdapat pada candi-candi di Indonesia
didasarkan pada cerita-cerita epik yang berkembang dalam kesusastraan yang
bercorak Hindu ataupun Buddha. Pemilihan epik sebagai hiasan relief candi
dikenal pertama kali pada candi Prambanan yang dibangun pada permulaan
abad ke-10. Epik yang tertera dalam relief candi Prambanan mengambil
penggalan kisah yang terdapat dalam cerita Ramayana. Hiasan relief candi
Penataran pada masa Kediri mengambil epik kisah Mahabharata. Sementara
itu, kisah Mahabharata juga menjadi epik yang dipilih sebagai relief pada
dua candi peninggalan kerajaan Majapahit, yaitu candi Tigawangi dan candi
Sukuh.
- Seni
Arca dan Patung, sebagai akibat akulturasi budaya pemujaan arwah leluhur
dengan agama Hindu-Buddha maka beberapa keluarga raja diperdewa dalam
bentuk arca yang ditempatkan di candi makam. Arcaarca dewa tersebut
dipercaya merupakan lambang keluarga raja yang dicandikan dan tidak
mustahil termasuk di dalamnya kepribadian dan watak dari keluarga raja
tersebut. Oleh karena itu, arca dewa tersebut sering diidentikkan dengan
arca keluarga raja. Seni arca yang berkembang di Indonesia memperlihatkan
unsur kepribadian dan budaya lokal, sehingga bukan merupakan bentuk
peniruan dari India. Beberapa contoh raja yang diarcakan adalah Raja
Rajasa yang diperdewa sebagai Siwa di candi makam Kagenengan, Raja
Anusapati sebagai Siwa di candi makam Kidal, Raja Wisnuwardhana sebagai Buddha
di candi makam Tumpang, Raja Kertanegara sebagai Wairocana Locana di candi
makam Segala dan Raja Kertarajasa Jayawardhana sebagai Harihara di candi
makam Simping. Patung-patung dewa dalam agama Hindu yang merupakan
peninggalan sejarah di Indonesia, antara lain: a. Arca batu Brahma. b.
Arca perunggu Siwa Mahadewa. c. Arca batu Wisnu. d. Arca-arca di
Prambanan, di antaranya arca Lorojongrang. e. Arca perwujudan
Tribhuwanatunggadewi di Jawa Timur. f. Arca Ganesa, yaitu dewa yang
berkepala gajah sebagai dewa ilmu pengetahuan.
- Seni
pertunjukan, terutama seni wayang sampai sekarang merupakan salah satu
bentuk seni yang masih populer di kalangan masyarakat Indonesia. Seni
wayang beragam bentuknya seperti wayang kulit, wayang golek, dan wayang
orang. Seni pertunjukan wayang tampaknya telah dikenal oleh bangsa
Indonesia sejak aman prasejarah. Pertunjukan wayang pada masa ini selalu
dikaitkan dengan fungsi magisreligius yaitu sebagai bentuk upacara
pemujaan pada arwah nenek moyang yang disebut Hyang . Kedatangan arwah
nenek moyang diwujudkan dalam bentuk bayangan dari sebuah wayang yang
terbuat dari kulit. Lakon wayang pada masa ini lebih banyak menceritakan
tentang kepahlawanan dan petualangan nenek moyang, seperti lakon-lakon
“Dewi Sri” atau “Murwakala”. Pertunjukan wayang diadakan pada malam hari
di tempattempat yang dianggap keramat. Pada masa Hindu-Buddha, kebudayaan
pertunjukan wayang ini terus dilanjutkan dan lebih berkembang lagi dengan
cerita-cerita yang lebih kaya. Cerita-cerita yang dikembangkan dalam seni
wayang kemudian sebagian besar mengambil epik yang berkembang dari agama
Hindu-Buddha terutama cerita Ramayana dan Mahabharata. Meskipun demikian,
tampaknya cerita yang dikembangkan dalam seni pertunjukan wayang tidak
seluruhnya merupakan budaya atau cerita yang sepenuhnya berasal dari
India. Unsur-unsur budaya asli memberikan ciri tersendiri dan utama dalam
seni wayang. Hal ini terlihat dengan dimasukkannya tokoh-tokoh baru yang
kita kenal dengan sebutan Punakawan. Tokoh-tokoh punakawan seperti Bagong,
Petruk dan Gareng (dalam seni wayang golek disebut Astrajingga atau Cepot,
Dewala dan Gareng) tidak akan kita temukan dalam cerita-cerita epik
populer India seperti Ramayana dan Mahabharata, sebab penciptaan
tokoh-tokoh tersebut asli dari Indonesia. Munculnya tokoh Punakawan ini
untuk pertamakalinya diperkenalkan oleh Mpu Panuluh yang hidup pada aman
kerajaan Kediri. Dalam karya sastranya yang berjudul Ghatotkacasraya, Mpu
Panuluh menampilkan unsur punakawan yang berjumlah tiga, yaitu Punta,
Prasanta dan Juru Deh sebagai hamba atau abdi tokoh Abhimanyu, putra
Arjuna. Dalam karyanya tersebut, Mpu Panuluh masih menggambarkan tokoh
punakawan sebagai tokoh figuran yang kaku dan porsi cerita terbesar masih
dipegang oleh tokoh-tokoh utama. Pada perkembangan selanjutnya tokoh
punakawan ini menjadi tokoh penting dalam seni pertunjukan wayang, sebab
memberikan unsur humor dan lelucon yang dapat membangun cerita wayang
lebih menarik lagi. Dimasukkannya tokoh-tokoh punakawan juga seakan-akan
untuk menggambarkan hubungan antara bangsa India dengan penduduk asli.
Pembauran budaya asli dengan budaya Hindu-Buddha terlihat juga pada
pencampuradukan antara mitos-mitos lama dengan cerita-cerita baru dari
India. Misalnya dalam kitab Pustaka Raja Purwa menggambarkan dewa-dewa
agama Hindu yang turun ke bumi dan menjadi penguasa di tanah Jawa. Sang
Hyang Syiwa menjadi raja di Medang Kamulan, Sang Hyang Wisnu menggantikan
kedudukan Prabu Watu Gunung dengan gelar Brahma Raja Wisnupati.
- Bidang
seni bangunan merupakan salah satu peninggalan budaya HinduBuddha di
Indonesia yang sangat menonjol antara lain berupa candi dan stupa. Selain
itu, terdapat pula beberapa bangunan lain yang berkaitan erat dengan
kehidupan keagamaan, seperti: ulan dan satra merupakan semacam
pesanggrahan atau tempat bermalam para pe iarah; sima adalah daerah
perdikan yang berkewajiban memelihara bangunan suci di suatu daerah;
patapan adalah tempat melakukan tapa; sambasambaran yang berarti tempat
persembahan; meru merupakan bangunan berbentuk tumpang yang melambangkan
ggunung Mahameru sebagai tempat tinggal dewadewa agama Hindu.[gs]